Home » » PROSES PEMBAKARAN ROKOK

PROSES PEMBAKARAN ROKOK

Written By Omah Tingwe on Minggu, 17 Desember 2017 | 11.04

Proses pembakaran rokok tidak berbeda dengan proses pembakaran bahan-bahan padat lainnya. Ada dua reaksi yang terjadi dalam proses merokok. Pertama adalah reaksi pembakaran pada temperatur tinggi, diatas 800 C. Reaksi ini terjadi di bagian ujung rokok yang membara. Reaksi kedua adalah reaksi pemecahan struktur kimia rokok menjadi senyawa kimia lainnya. Reaksi ini terjadi akibat pemanasan dan keabsenan oksigen. Reaksi ini lebih dikenal dengan nama pirolisa. Pirolisa berlangsung pada temperatur yang lebih rendah dari 800 C. Maka dari itu pirolisa terjadi pada bagian dalam rokok yang berada pada area bersuhu 400-800 C. Ciri khas reaksi ini yaitu menghasilkan ribuan senyawa kimia yang strukturnya komplek.
Walaupun reaksi pirolisa tidak dominan dalam proses merokok,tetapi banyak senyawa yang dihasilkannya tergolong sebagai senyawa kimia beracun yang mampu berdifusi dalam darah. Tidak perlu disangkal lagi bahwa titik bahaya merokok adalah pada produk reaksi pirolisa ini. Sebenarnya produk pirolisa ini bisa terbakar bila produk melewati temperatur yang tinggi dan cukup oksigen. Namun hal itu tidak terjadi dalam proses merokok karena proses sedot atau hirup, gas produk pirolisa langsung mengalir ke arah mulut kita yang hangat, bersuhu sekitar 37 derajat Celcius.

Selain reaksi kimia, juga terjadi proses penguapan uap air dan nikotin yang berlangsung pada temperatur antara 100-400 C. Nikotin yang menguap di daerah temperatur itu tidak memperoleh kesempatan untuk melalui temperatur tinggi dan tidak melalui proses pembakaran. Terkondensasinya uap nikotin di dalam gas tergantung pada temperatur, tergantung juga pada konsentrasi uap nikotin dalam gas dan geometri saluran yang dilewati gas.

Pada temperatur dibawah 100 C nikotin sudah mengkondensasi. Jadi sebenarnya sebelum gas memasuki mulut, kondensasi nikotin telah terjadi. Namun berdasarkan keseimbangan, tidak semua nikotin tersebut terkondensasi sebelum memasuki mulut. Ada gas atau asap yang menyelinap masuk ke paru-paru masih mengandung nikotin. Sesampainya di paru-paru, nikotin akan mengalami keseimbangan baru, dan akan mengendap disitu.

Untuk menekan resiko itu, pemerintah telah menetapkan batas maksimum kandungan nikotin maupun tar dalam batang rokok. Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 1999 menetapkan bahwa batas kadar maksimum kandungan nikotin dan tar pada setiap batang rokok yang beredar di wilayah Indonesia tidak boleh melebihi kadar kandungan nikotin 1,5 mg dan kadar kandungan tar 20 mg.

Namun penetapan batas kadar maksimum kandungan nikotin dan tar tersebut membutuhkan teknologi pengolahan yang canggih. Perusahaan rokok yang akan terpengaruh dengan ketentuan tersebut adalah perusahaan yang bersifat manual dan perusahaan rokok yang bersifat campuran yaitu manual dan machinal. Dampak penggunaan teknologi tersebut akan sangat mempengaruhi perusahaan rokok kretek yang umumnya diolah secara manual yang menghendaki cita rasa tradisional.

Gitu kira-kira...


Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar