Home » » DOYAN MEROKOK,WAJIB NYUMBANG

DOYAN MEROKOK,WAJIB NYUMBANG

Written By Omah Tingwe on Kamis, 22 Maret 2018 | 21.20

DOYAN MEROKOK, WAJIB NYUMBANG...

Perokok itu tergolong  "dermawan terpaksa". Dari uang Rp 18 ribu yang dibelanjakan untuk beli  sebungkus rokok diwarung, sejumlah  Rp 10 ribu ternyata disumbangkannya untuk negara dalam rupa cukai rokok. Itu baru dalam hitungan sebungkus rokok. Lha kalau merokoknya setiap hari satu bungkus, setahun 365 bungkus, maka jumlah sumbangan akan sebesar Rp 3,65 juta. Padahal merokok tidak hanya setahun tapi bisa berlanjut terus hingga bertahun-tahun.  Bahkan perokok kelas berat tidak cukup sebungkus sehari tapi bisa 2 hingga 3 bungkus. Bayangkan, betapa sungguh besarnya jumlah uang sumbangan itu. Meskipun jumlahnya besar, tapi ya relakan saja uang sumbangan itu kalau dirasa sebanding dengan nikmatnya merokok yang sudah dikemas. Tapi kalau tidak rela, merasa sayang dan keberatan, merasa kelewat banyak uang yang disumbangkan, ya monggo kita cari solusinya.  Mari kita tengok keberadaan rokok tingwe, yakni tembakau yang dilinting dewe menjadi batang rokok.

MENGAPA (HARUS) TINGWE...?
Aturan bea cukai membedakan tarip antara produk rokok jadi yang dibuat oleh pabrik dengan bahan tembakau, antara Sigaret Kretek Mesin (SKT) dengan Tembakau Iris (TIS).  Untuk rokok dihitung tarip per batang dari harga jual, sedangkan untuk bahan tembakau dihitung tarip per gram dari harga jualnya. Sebatang rokok yang saat ini harganya rata2 seribu rupiah, dikenakan cukai hampir 600 rupiah atau hampir 60%.  Sedangkan tembakau yang harganya rata2 Rp 150 per gram cukainya tidak lebih dari 20 perak saja. Sebatang rokok umumnya butuh satu gram tembakau. Sangat jauh beda cukainya, antara 600 dengan 20 rupiah setiap batang atau gramnya. Perbedaan tarip cukai ini bisa menjadi sumber penghematan, selain juga perbedaan yang nyata dalam harga rokok dan harga tembakau.

DAPAT TEMBAKAU DARI MANA...?
Pabrik rokok berskala besar terkena pajak yang besar pula. Nah, guna mengendalikan besarnya volume produksi , untuk mengindari pajak yang besar, mereka  kemudian membuat anak perusahaan (sister company) dengan merek yang berbeda atau juga dengan melepas dan menjual bahan tembakau yang sudah diraciknya. Tembakau seperti itulah yang lalu dihadirkan dan dijual di Omah Tingwe, kedai tembakau yang kita kelola.

OMAH TINGWE.
Omah Tingwe khusus menjual tembakau bermutu dan bercukai, mutunya sama dengan rokok kemasan  bermerek terkenal. Ya, Omah Tingwe hanya menjual tembakau dan perlengkapan melinting, seperti kertas rokok, filter/gabus serta alat pelinting, tidak menjual rokok yang sudah jadi. Dengan melinting rokok sendiri (tingwe), kita para perokok sangat dihematkan, dari Rp 1000 kalau beli rokok menjadi cuma Rp 300 kalau bikin sendiri alias kalau kita mau nglinting dewe. Sama sama enak, sama sama legal, malah yang tingwe ini lebih hemat dan lebih asyik.

Namun meskipun sudah jelas kita akan bisa dihematkan dengan keberadaan tingwe, tetap saja sebagian dari kita merasa malas untuk sekedar melinting rokok sendiri, yang hanya butuh waktu 1 menit guna menyulap tembakau menjadi sebatang rokok siap sulut. Penyakit malas melinting ini yang hingga saat ini masih menjadi “musuh” bagi Omah Tingwe.

Semoga seiring waktu kita para perokok bisa  menjadi pengrajin, menjadi rajin bikin rokok sendiri, dan bisa menjadi “Keluarga Besar Omah Tingwe”, menjadi keluarga besar penggemar rokok tingwe. "Rajin pangkal hemat", begitu slogan kita. Hematnya untuk siapa? Tentu saja hemat demi keluarga tercinta.

Alamat Omah Tingwe, Jl H Taiman Barat I No 71 RT 02 RW 02 Gedong, Pasar Rebo Jakarta Timur.  (Satu atap dengan Rumah Tiup).

Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar